Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini

81 Tahun RI: Menggugat Makna Kemerdekaan

9
×

81 Tahun RI: Menggugat Makna Kemerdekaan

Sebarkan artikel ini
81 Tahun RI: Menggugat Makna Kemerdekaan

Oleh: Sandhi Indrati, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Suasana gempita di tanah air makin terasa sejak awal Agustus dalam rangka perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 81. Jalan-jalan, gedung-gedung berhias bendera, umbul- umbul serta diadakannya berbagai kegiatan pagelaran dan bermacam perlombaan. 81 tahun usia Republik Indonesia saat ini dirayakan dengan mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”.

Example 300x600

Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tetap dirayakan di tengah keadaan rakyat yang sedang bertahan hidup dalam himpitan. Sebagai negara dengan jumlah penduduk sekitar 287.198.383 jiwa (Badan Pusat Statistik, Juni 2026), RI menjadi salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia berdasarkan estimasi pertengahan 2025 yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia menempati peringkat keempat (CNBC Indonesia, 16/7/2026).

Alih- alih berkah populasi, justru keadaan rakyatnya masih jauh dari sejahtera. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebanyak 22, 93 juta orang atau setara dengan 8, 07 % dari total populasi. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat ada lebih dari 4 juta anak di Indonesia tidak sekolah (Kompas.com, 24/4/2026).

Maka dari itu, di balik kemeriahan peringatan Hari Ulang Tahun RI ke 81, layak direnungkan bersama, benarkah Indonesia sudah berdaulat, adil dan makmur?

Secara fisik militer, Indonesia memang telah merdeka dari penjajahan sebagaimana dinyatakan dalan teks Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945. Namun, bila kita merujuk dalam kitab Mafaahim Siyaasiyah yang ditulis oleh Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, dikatakan penjajahan sesungguhnya tidaklah benar-benar berakhir. Kapitalisme akan selalu berupaya menyebarkan paham dan mempertahankan pengaruhnya ke seluruh penjuru dunia, dengan metode melalui penjajahan (isti’maar), berupa penguasaan (pengendalian) dan dominansi di bidang politik, ekonomi, sosial, pendidikan, budaya dan pertahanan keamanan, terutama atas negara- negara muslim.

Bangsa Barat sebagai pelaku penjajah, tetap berusaha menjajah dengan cara yang baru. Di bidang ekonomi, penjajahan dilakukan melalui peminjaman dana dengan dalih membantu negara berkembang, termasuk Indonesia. Melalui lembaga keuangan atau institusi-institusi yang mereka ciptakan, seperti International Monetary Fund (IMF), World Bank, dan lain- lainnya, Barat menjajah ekonomi dengan berbagai aturan yang mereka paksakan serta berbagai program yang menjadikan mereka penguasa sumber daya ekonomi. Akibatnya seperti yang kita rasakan saat ini, secara politik dan ekonomi Indonesia terjajah.

Di bidang hukum, Indonesia termasuk salah satu negeri Muslim yang masih menggunakan hukum dan perundang-undangan bersumber dari Barat, khususnya buatan Belanda. Secara tidak langsung sebagai negara dengan mayoritas Muslim masih menyelesaikan berbagai masalah yang ada dengan cara ala penjajah walaupun kita dinyatakan telah merdeka.

Maka dari itu, menjadi tugas kita bersama untuk mewujudkan kemerdekaan yang hakiki (menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama manusia). Jika dahulu tujuan dari perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajahan fisik, kini tujuan perjuangan beralih untuk membebaskan umat dari penjajahan ideologi sekuler, hukum jahiliah, ekonomi kapitalis, budaya liberalis dan berbagai tatanan sistem kehidupan manusia yang

Berdasarkan World Polulation Review pada 2025, Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah umat Muslim tertinggi dengan lebih dari 242 juta jiwa (CNN Indonesia, 13/3/2026), saat ini lebih membutuhkan penerapan sistem dari Sang Maha Pencipta, yaitu penerapan Islam kaffah guna menyelesaikan semua permasalahan yang sedang terjadi.

Bila rakyat bersama para pemimpin sepenuhnya taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara serta meninggalkan sistem kufur buatan manusia kemudian menggantinya dengan sistem Islam akan mewujudkan negeri seperti yang diharapkan yaitu menebar rahmat lil ‘aalamiin, keberkahan bagi seluruh alam dan seisinya.[]

Example 120x600