<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Maulid Arsip - Kabar Today</title>
	<atom:link href="https://kabartoday.co/tag/maulid/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabartoday.co/tag/maulid/</link>
	<description>Tegas dan Lugas</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Aug 2026 01:27:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://kabartoday.co/go/wp-content/uploads/2026/08/cropped-logo-32x32.jpg</url>
	<title>Maulid Arsip - Kabar Today</title>
	<link>https://kabartoday.co/tag/maulid/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tradisi Perayaan Maulid Nabi di Betawi: Antara Keberkahan dan Ancaman Kepunahan</title>
		<link>https://kabartoday.co/tradisi-perayaan-maulid-nabi-di-betawi-antara-keberkahan-dan-ancaman-kepunahan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2026 01:27:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartoday.co/?p=103297</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co/tradisi-perayaan-maulid-nabi-di-betawi-antara-keberkahan-dan-ancaman-kepunahan/">Tradisi Perayaan Maulid Nabi di Betawi: Antara Keberkahan dan Ancaman Kepunahan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Setiap bulan Rabiul Awal tiba, denyut kehidupan masyarakat Betawi di Jakarta berdetak lebih kencang. Bagi mereka, yang akrab disapa &#8220;orang Betawi&#8221; atau &#8220;orang Jakarta&#8221;, Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah napas budaya yang telah mengalir selama bergenerasi—sebuah harmoni antara ritual keagamaan dan ekspresi seni yang khas. Tradisi perayaan kelahiran Nabi yang dikenal dengan istilah *Muludan* ini menjadi cermin bagaimana masyarakat Betawi memaknai Islam dengan cara yang unik dan penuh warna.</p>
<p><strong>Ruh Tradisi: Kitab Barzanji dan Samrah Betawi.</strong></p>
<p>Jika ada satu elemen yang paling identik dengan Maulid di Betawi, itu adalah pembacaan Kitab Barzanji. Karya Syaikh Ja&#8217;far al-Barzanji ini berisi syair dan prosa yang menuturkan riwayat kelahiran, kehidupan, dan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW. Masyarakat Betawi membacakannya secara bergantian bab demi bab dalam berbagai kesempatan—bukan hanya saat Maulid, tetapi juga di acara pernikahan, khitanan, majelis taklim, hingga tasyakuran.</p>
<p>Yang menarik, pembacaan Barzanji di Betawi selalu diawali dengan *tawasul*, yaitu pengiriman doa dan bacaan Al-Fatihah, Surat Yasin, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas untuk sanak saudara yang telah meninggal dunia. Setelah itu, barulah pembacaan Maulid Nabi dilakukan. Tradisi ini menjadi pembeda yang khas dibandingkan tempat lain.</p>
<p>Keunikan lainnya adalah hadirnya Samrah Betawi, sebuah seni pertunjukan teater yang mengiringi perayaan Maulid. Awalnya, Samrah dianggap sebagai seni sakral karena selalu dimainkan setelah ritual Maulid Nabi. Dalam pertunjukannya, Samrah mengangkat kisah-kisah kehidupan masyarakat Betawi—bagaimana menyikapi berbagai permasalahan hidup dengan bimbingan seorang ulama. Unsur Islam sangat terasa, mulai dari lagu pembuka &#8220;Assalamualaikum&#8221; yang berisi doa-doa, hingga isi lagu yang sarat nasihat tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama .</p>
<p><strong>Tanda Kebersamaan: Petasan dan Nasi Kebuli</strong></p>
<p>Selain Barzanji dan Samrah, ada tradisi yang tak kalah khas: penggunaan petasan dan kembang api. Bagi masyarakat Betawi, petasan bukan sekadar hiburan. Ia adalah kode undangan antar-kampung sebagai media komunikasi tradisional. Bunyi petasan yang meriah mampu menarik perhatian warga dari kampung lain untuk berbondong-bondong hadir di lokasi perayaan. Menariknya, petasan tradisional Betawi dibuat dari bambu atau bledugan yang diberi bahan tertentu, lalu diledakkan dengan air dan percikan api—jauh sebelum petasan pabrikan dikenal.</p>
<p>Tak lengkap rasanya perayaan Maulid tanpa hidangan khas. Nasi Kebuli Betawi menjadi sajian wajib yang menyertai setiap peringatan. Nasi yang kaya rempah ini disajikan bersama daging kambing atau ayam sebagai simbol kemeriahan dan kebersamaan. Dulu, masyarakat Betawi juga menyantap &#8220;menu berkah bersama&#8221;—makanan yang dibawa dari rumah masing-masing dan dinikmati secara lesehan .</p>
<p><strong>Kitab Maulid Berbahasa Betawi: Akar yang Menguat</strong></p>
<p>Salah satu bukti kuatnya akar tradisi Maulid di Betawi adalah adanya kitab <em>Az-Zahrul Basim fi Athwari Abil Qasim</em>, yang ditulis oleh Sayyid Utsman bin Yahya dalam bahasa Melayu Betawi dengan aksara Jawi . Kitab ini sengaja disiapkan untuk masyarakat Betawi yang gemar shalawat dan maulid, karena selama ini kitab maulid yang beredar umumnya berbahasa Arab yang jarang dimengerti . Kitab ini berisi riwayat kelahiran Nabi, mukjizat, irhash, hingga perangai terpuji Rasulullah—semuanya dalam bahasa yang akrab di telinga orang Betawi .</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa tradisi Maulid di Betawi bukanlah sekadar tiruan dari budaya Arab, melainkan hasil akulturasi yang mendalam antara ajaran Islam dan kearifan lokal. Sebagaimana diungkapkan peneliti BRIN Halimatusadiyah, Maulid Nabi, tahlilan, dan Lebaran Betawi adalah &#8220;bukan hanya ibadah, tapi juga ekspresi budaya yang melekat dalam keseharian warga&#8221; .</p>
<p><strong>Ancaman di Tengah Modernisasi</strong></p>
<p>Namun, di balik kekayaan tradisi ini, ada kabar yang memprihatinkan. Halimatusadiyah mencatat bahwa banyak tradisi Maulid di Betawi kini hanya tinggal kenangan akibat penggusuran kampung dan hilangnya mushola . Lebaran Betawi yang dulu menjadi ritual warga kini diadakan di panggung besar Monas, &#8220;lebih terasa sebagai konten wisata daripada ritual budaya warga&#8221; . Samrah Betawi pun, yang dulu merupakan pertunjukan sakral, kini sering menjadi hiburan semata karena tidak lagi disandingkan dengan ritual Maulid Nabi .</p>
<p><strong>Menjaga Warisan untuk Generasi Mendatang</strong></p>
<p>Di tengah gempuran modernisasi dan arus informasi yang deras, tradisi Maulid Betawi membutuhkan perhatian serius. Bukan untuk dibiarkan menjadi museum, melainkan untuk dihidupkan kembali dengan cara yang relevan dengan zaman. Sebagaimana dicontohkan di Masjid Al-Alam Marunda pada 2010, perayaan Maulid dapat dipadukan dengan budaya Betawi seperti ondel-ondel, tari zapin, dan sajian lesehan di sepanjang jalan—sebuah upaya melestarikan tradisi sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda .</p>
<p>Masyarakat Betawi pada umumnya adalah penganut Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang menjunjung tinggi tradisi puji-pujian dan shalawat kepada Nabi . Perayaan Maulid bukanlah sekadar seremonial. Ia adalah momen untuk mempererat silaturahmi, menjaga keutuhan masyarakat, dan meneladani akhlak mulia Rasulullah—nilai-nilai yang tak pernah lekang oleh waktu. Sudah saatnya kita bersama menjaga warisan budaya ini agar tidak punah ditelan zaman. Demikian dan terima kasih(odie).</p>
<p>Wallahua’lambishawab.</p>
<p>Palembang, 29 Agustus 2026.<br />
Murodi al-Batawi.</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co/tradisi-perayaan-maulid-nabi-di-betawi-antara-keberkahan-dan-ancaman-kepunahan/">Tradisi Perayaan Maulid Nabi di Betawi: Antara Keberkahan dan Ancaman Kepunahan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://www.senibudayabetawi.com/wp-content/uploads/2023/09/maulidd.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maulid: Saatnya Meneladani Rasulullah Ketika Ekonomi sedang Tak Baik-baik Saja</title>
		<link>https://kabartoday.co/maulid-saatnya-meneladani-rasulullah-ketika-ekonomi-sedang-tak-baik-baik-saja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2026 10:32:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid]]></category>
		<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartoday.co/?p=103199</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Dr. H. Bambang Sutopo, S.E.I., M.M, Anggota DPRD Kota Depok Fraksi PKS</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co/maulid-saatnya-meneladani-rasulullah-ketika-ekonomi-sedang-tak-baik-baik-saja/">Maulid: Saatnya Meneladani Rasulullah Ketika Ekonomi sedang Tak Baik-baik Saja</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Dr. H. Bambang Sutopo, S.E.I., M.M, Anggota <a href="https://kabartoday.co/temuan-kritis-komisi-iii-dprd-majalengka-infrastruktur-jalan-dan-jembatan-belum-layak/">DPRD</a> Kota Depok Fraksi PKS</strong></em></p>
<p><em>“Cinta kepada Rasulullah bukan hanya tentang seberapa sering kita bershalawat, tetapi seberapa jauh akhlak dan perjuangannya hadir dalam kehidupan kita.”</em></p>
<p>Maulid Nabi Muhammad SAW selalu menghadirkan kerinduan. Kerinduan kepada sosok manusia mulia yang tidak pernah kita jumpai, tetapi ajaran dan keteladanannya terus hidup hingga hari ini.</p>
<p><em>Ya Rasulullah&#8230;</em><br />
<em>Aku tak pernah berjumpa denganmu.</em><br />
<em>Aku tak pernah melihat wajahmu.</em><br />
<em>Aku masih jauh dari sempurna dalam menjalankan sunnahmu.</em></p>
<p><em>Namun aku tetap mencintaimu dan berharap kelak mendapatkan syafaatmu di hadapan Allah SWT, di Mahkamah-Nya yang Maha Benar dan Maha Adil.</em></p>
<p>Tetapi tahun ini, Maulid Nabi terasa memiliki pesan yang semakin relevan.<br />
Karena kita hidup di tengah masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja secara ekonomi. Banyak keluarga harus semakin cermat mengatur pengeluaran.<br />
Sebagian masyarakat menghadapi tekanan biaya kebutuhan hidup.</p>
<p>Lapangan pekerjaan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Anak-anak muda membutuhkan kesempatan.</p>
<p>Pelaku UMKM membutuhkan pasar.<br />
Pedagang kecil membutuhkan daya beli masyarakat.</p>
<p>Petani, buruh, pekerja informal dan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah membutuhkan perlindungan dan keberpihakan.</p>
<p>Di tengah kondisi seperti ini, pertanyaan pentingnya adalah Apa yang dapat kita pelajari dari Rasulullah SAW?</p>
<p>RASULULLAH MEMBANGUN MASYARAKAT, BUKAN HANYA MENGAJARKAN IBADAH</p>
<p>Rasulullah SAW datang bukan hanya untuk mengajarkan hubungan manusia dengan Allah. Beliau juga membangun hubungan manusia dengan manusia. Membangun masyarakat yang saling menolong.</p>
<p>Beliau membangun perdagangan yang jujur. Mendorong <a href="https://kabartoday.co/kemnaker-dan-pt-pkss-perluas-akses-kesempatan-kerja/">kerja</a> keras. Menjaga hak kaum dhuafa. Menguatkan solidaritas sosial.</p>
<p>Beliau menghapus praktik ekonomi yang menzalimi. Dan membangun kehidupan masyarakat berdasarkan keadilan dan kemaslahatan.</p>
<p>Ketika membangun masyarakat Madinah, Rasulullah SAW tidak membiarkan persoalan ekonomi menjadi urusan masing-masing individu semata. Beliau membangun ukhuwah antara Muhajirin dan Anshar. Kaum Muhajirin yang datang tanpa banyak harta dipersaudarakan dengan kaum Anshar.</p>
<p>Yang memiliki membantu yang membutuhkan. Yang kuat menopang yang lemah. Yang memiliki kesempatan membuka jalan bagi saudaranya yang belum memiliki kesempatan.</p>
<p>Inilah ekonomi yang memiliki ruh kemanusiaan. Bukan sekadar mengejar pertumbuhan. Tetapi memastikan pertumbuhan itu dirasakan oleh masyarakat.</p>
<p>SHIDIQ: EKONOMI HARUS DIBANGUN DENGAN KEJUJURAN</p>
<p>Rasulullah SAW adalah pedagang yang dikenal jujur. Beliau tidak menipu. Tidak mengurangi timbangan. Tidak menyembunyikan cacat barang. Tidak memanipulasi informasi untuk memperoleh keuntungan. Hari ini, nilai Shidiq menjadi sangat penting.</p>
<p>Ketika harga menjadi perhatian masyarakat, jangan ada pihak yang mengambil keuntungan dengan menimbun.</p>
<p>Ketika masyarakat membutuhkan barang, jangan ada manipulasi pasokan.<br />
Ketika masyarakat mencari pekerjaan, jangan ada praktik yang merugikan pencari kerja.</p>
<p>Ketika pemerintah menyusun kebijakan ekonomi, data harus disampaikan secara jujur. Karena kebijakan yang baik harus dibangun dari data yang benar dan kondisi masyarakat yang sesungguhnya.</p>
<p>Jangan sampai angka-angka ekonomi terlihat baik di atas kertas, tetapi masyarakat di lapangan masih merasa:<br />
“Mengapa hidup semakin berat?”<br />
Di sinilah Shidiq harus hadir. Jujur melihat masalah sebelum mencari solusi.</p>
<p>AMANAH: ANGGARAN DAN KEKUASAAN HARUS KEMBALI KEPADA RAKYAT</p>
<p>Ketika kondisi ekonomi masyarakat berat, maka amanah pemerintah dan para pemegang kekuasaan menjadi semakin besar.</p>
<p>APBN dan APBD bukan sekadar angka. Di dalamnya terdapat uang rakyat. Setiap rupiah anggaran seharusnya ditanyakan:</p>
<p><em>Apakah benar-benar bermanfaat bagi masyarakat?</em><br />
<em>Apakah membuka lapangan pekerjaan?</em><br />
<em>Apakah meningkatkan kualitas pendidikan?</em><br />
<em>Apakah membantu kesehatan masyarakat?</em><br />
<em>Apakah memperkuat UMKM?</em><br />
<em>Apakah memperbaiki infrastruktur?</em><br />
<em>Apakah mengurangi beban masyarakat miskin?</em><br />
<em>Ataukah hanya habis untuk kegiatan yang manfaatnya tidak dirasakan langsung oleh masyarakat?</em></p>
<p>Inilah makna Amanah dalam kepemimpinan. Jabatan bukan fasilitas untuk menikmati kekuasaan. Jabatan adalah titipan untuk menyelesaikan persoalan rakyat.</p>
<p>TABLIGH: PEMIMPIN HARUS BERANI MENGATAKAN KONDISI YANG SEBENARNYA</p>
<p>Keteladanan Rasulullah SAW berikutnya adalah Tabligh. Menyampaikan kebenaran.</p>
<p>Dalam konteks pemerintahan, Tabligh berarti keberanian untuk menyampaikan kondisi masyarakat secara terbuka.</p>
<p>Kalau ekonomi sedang menghadapi tekanan, katakan apa adanya. Kalau ada pengangguran, jangan ditutupi. Kalau UMKM sedang kesulitan, dengarkan. Kalau daya beli masyarakat melemah, carikan solusi. Kalau ada program yang tidak efektif, evaluasi.</p>
<p>Jangan sampai masyarakat hanya mendengar kabar baik dari pemerintah, sementara keluhan mereka tidak pernah benar-benar didengar.</p>
<p>Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk mendengar dan menyampaikan kebenaran dengan hikmah.</p>
<p>Karena pemimpin yang baik bukan hanya pandai berbicara kepada rakyat, tetapi juga mau mendengarkan suara rakyat.</p>
<p>FATHONAH: KEBIJAKAN EKONOMI HARUS CERDAS DAN BERPIHAK</p>
<p>Kemudian ada Fathonah. Kecerdasan dan kebijaksanaan.</p>
<p>Dalam menghadapi ekonomi yang penuh tantangan, pemerintah tidak cukup hanya mengeluarkan program bantuan.<br />
Bantuan memang penting untuk masyarakat yang membutuhkan. Tetapi masyarakat juga harus diberdayakan agar mampu berdiri sendiri.</p>
<p>Kita perlu membangun lapangan pekerjaan, kewirausahaan, UMKM yang naik kelas, akses permodalan yang sehat, pendidikan dan keterampilan, ekonomi kreatif, ekonomi digital, serta ekosistem usaha yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk tumbuh.</p>
<p>Inilah semangat Fathonah. Bukan sekadar menyelesaikan masalah hari ini, tetapi memikirkan: “Bagaimana agar generasi berikutnya hidup lebih baik?”</p>
<p>JANGAN BIARKAN ORANG MISKIN BERJUANG SENDIRIAN</p>
<p>Ada pesan besar dari kehidupan Rasulullah SAW Orang miskin bukan objek belas kasihan, tetapi manusia yang harus dihormati martabatnya dan dibantu agar memiliki kesempatan hidup yang lebih baik.</p>
<p>Islam tidak mengajarkan kita untuk hanya berkata &#8220;Sabar ya&#8230;kepada orang yang kesulitan ekonomi. Tetapi kita harus bertanya Apa yang bisa kita lakukan?</p>
<p>Kalau tetangga kehilangan pekerjaan, apakah kita bisa membantu mencarikan pekerjaan?</p>
<p>Kalau ada anak yang kesulitan sekolah, apakah kita bisa membantu?</p>
<p>Kalau ada pedagang kecil kesulitan modal, apakah kita bisa menjadi bagian dari solusi?</p>
<p>Kalau ada UMKM yang produknya bagus tetapi tidak punya pasar, apakah kita bisa membantu mempromosikannya?<br />
Inilah ukhuwah yang nyata.</p>
<p>PEMERINTAH HARUS HADIR, MASYARAKAT JUGA HARUS PEDULI</p>
<p>Kita tidak boleh menyerahkan seluruh persoalan ekonomi kepada pemerintah.<br />
Tetapi pemerintah juga tidak boleh menyerahkan seluruh persoalan masyarakat kepada masyarakat.<br />
Keduanya harus berjalan bersama.<br />
Pemerintah menghadirkan kebijakan yang adil.</p>
<p>Dunia usaha membuka kesempatan.<br />
Masyarakat membangun solidaritas.<br />
Lembaga pendidikan menyiapkan manusia yang kompeten. Tokoh agama membangun moral dan etika. Dan kita semua mengambil bagian sesuai kemampuan.</p>
<p>Inilah semangat masyarakat Madinah yang dibangun Rasulullah SAW..</p>
<p>MAULID HARUS MELAHIRKAN GERAKAN KEBAIKAN</p>
<p>Maka, menurut saya, Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti pada seremoni.</p>
<p>Setelah Maulid, mari kita bertanya:</p>
<p>Apakah ada satu keluarga yang ekonominya menjadi lebih ringan karena kehadiran kita?</p>
<p>Apakah ada satu anak muda yang mendapatkan pekerjaan karena bantuan kita?</p>
<p>Apakah ada satu UMKM yang naik kelas karena kita dukung?</p>
<p>Apakah ada satu anak yang tetap sekolah karena kita bantu?</p>
<p>Apakah ada satu pedagang kecil yang dagangannya menjadi lebih laris karena kita promosikan?</p>
<p>Kalau jawabannya iya, maka sesungguhnya kita sedang berusaha menghadirkan semangat Rasulullah SAW dalam kehidupan nyata.</p>
<p>CINTA RASUL HARUS MENJADI KEBERPIHAKAN KEPADA SESAMA</p>
<p>Rasulullah SAW adalah Rahmatan lil &#8216;Alamin.</p>
<p><em>Maka cinta kepada Rasulullah harus melahirkan rahmat.</em><br />
<em>Rahmat kepada keluarga.</em><br />
<em>Rahmat kepada tetangga.</em><br />
<em>Rahmat kepada kaum dhuafa.</em><br />
<em>Rahmat kepada pekerja.</em><br />
<em>Rahmat kepada pedagang kecil.</em><br />
<em>Rahmat kepada anak-anak muda.</em><br />
<em>Rahmat kepada lingkungan.</em><br />
<em>Dan rahmat dalam menjalankan kekuasaan.</em></p>
<p>Karena itu saya ingin mengajak diri saya sendiri dan kita seemua selalu  mencintai Rasulullah bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan tindakan.</p>
<p>Mari menjadi manusia yang Shidiq dalam ucapan. Amanah dalam tanggung jawab. Tabligh dalam menyampaikan kebenaran. Dan Fathonah dalam mengambil keputusan.</p>
<p>Terutama bagi siapa pun yang diberi amanah memimpin masyarakat.<br />
Karena ketika rakyat sedang menghadapi kesulitan, amanah seorang pemimpin justru semakin besar.</p>
<p>SEMOGA KITA MENJADI UMAT YANG DIRINDUKAN RASULULLAH</p>
<p><em>Ya Rasulullah&#8230;</em><br />
<em>Aku tidak pernah bertemu denganmu.</em><br />
<em>Aku tidak pernah melihat wajahmu.</em><br />
<em>Aku masih jauh dari sempurna mengikuti sunnahmu.</em><br />
<em>Namun aku ingin terus belajar mencintaimu.</em><br />
<em>Aku ingin belajar dari kejujuranmu.</em><br />
<em>Dari amanahmu.</em><br />
<em>Dari keberanianmu menyampaikan kebenaran.</em><br />
<em>Dari kecerdasan dan kebijaksanaanmu.</em></p>
<p>Dan terutama dari kasih sayangmu kepada umat manusia.<br />
Semoga cinta itu tidak berhenti di bibir.<br />
Semoga cinta itu hadir dalam keluarga kita.<br />
Dalam pekerjaan kita.<br />
Dalam pendidikan kita.<br />
Dalam pelayanan kepada masyarakat.<br />
Dalam kebijakan pemerintah.<br />
Dan dalam setiap keputusan yang kita ambil.</p>
<p>Karena mencintai Rasulullah adalah kerinduan, tetapi meneladaninya adalah pembuktian.</p>
<p>Mari jadikan Maulid Nabi sebagai momentum untuk menghadirkan kembali ekonomi yang berkeadilan, kepemimpinan yang amanah, masyarakat yang saling peduli, dan pembangunan yang benar-benar menghadirkan kemaslahatan.</p>
<p>Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal 1448 H / 25 Agustus 2026</p>
<p>Shidiq dalam perkataan.<br />
Amanah dalam pengabdian.<br />
Tabligh dalam kebenaran.<br />
Fathonah dalam kebijakan.</p>
<p>Semoga kita menjadi umat yang bukan hanya mencintai Rasulullah SAW, tetapi juga berusaha hidup dengan akhlaknya dan memperjuangkan kemaslahatan umat. HBS</p>
<p><em>Allahumma shalli wa sallim &#8216;ala Sayyidina Muhammad, wa &#8216;ala ali Sayyidina Muhammad.</em></p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co/maulid-saatnya-meneladani-rasulullah-ketika-ekonomi-sedang-tak-baik-baik-saja/">Maulid: Saatnya Meneladani Rasulullah Ketika Ekonomi sedang Tak Baik-baik Saja</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://res.cloudinary.com/uttpsgry/images/f_webp,q_auto:low/v1787653291/IMG-20260825-WA0010/IMG-20260825-WA0010.jpg?_i=AA" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW dan Perayaan Peringatan Kemerdekaan RI ke-81</title>
		<link>https://kabartoday.co/hikmah-maulid-nabi-muhammad-saw-dan-perayaan-peringatan-kemerdekaan-ri-ke-81/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2026 22:31:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartoday.co/?p=103179</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co/hikmah-maulid-nabi-muhammad-saw-dan-perayaan-peringatan-kemerdekaan-ri-ke-81/">Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW dan Perayaan Peringatan Kemerdekaan RI ke-81</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Bulan Agustus tahun ini menghadirkan perjumpaan dua momentum besar: Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal 1448 H atau Selasa, 25 Agustus 2026. Pertemuan kalender ini bukanlah sekadar kebetulan. Ia adalah ruang refleksi istimewa di mana kemerdekaan dan keteladanan kenabian bertemu dalam satu tarikan napas kebangsaan.</p>
<p><strong>Kemerdekaan dan Maulid: Dua Nafas Satu Perjuangan</strong></p>
<p>Secara historis, kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari spirit perjuangan Islam dan para ulama. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dikumandangkan KH Hasyim Asy&#8217;ari menjadi bukti nyata bahwa kecintaan kepada tanah air dan tanggung jawab keagamaan dapat berjalan beriringan. Para ulama, habaib, dan <a href="https://kabartoday.co/pesantren-dan-kajian-kitab-fiqh-menjaga-tradisi-merawat-kebangsaan/">santri</a> dari berbagai organisasi Islam aktif menjadi anggota BPUPK, Panitia Sembilan, hingga PPKI, bahu-membahu dengan tokoh dari berbagai latar belakang untuk menyepakati dasar negara Pancasila dan UUD 1945. Jejak ini menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan adalah perpanjangan dari nilai-nilai kenabian: menolak kezaliman dan menegakkan keadilan.</p>
<p>Sementara itu, peringatan Maulid Nabi sejak masa Presiden Sukarno pun telah menjadi tradisi yang diakui negara. Pada 1960, perayaan Maulid Akbar digelar di Lapangan Istana Merdeka. Dalam pidatonya, Sukarno menyatakan bahwa dengan pikirannya, hatinya, dan buku-buku yang dibacanya tentang Nabi Muhammad, ia merasa &#8220;tak gaduk&#8221; (tak sampai) ukurannya untuk menilai kebesaran Nabi. Pada 1964, Sukarno bahkan mengaitkan peringatan Maulid dengan perjuangan menentang imperialisme, menegaskan bahwa perlawanan terhadap penjajahan adalah perintah Nabi.</p>
<p><strong>Maulid: Dari Seremoni Menuju Keteladanan</strong></p>
<p>Namun, peringatan Maulid tidak boleh berhenti pada seremonial. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur&#8217;an, Rasulullah adalah *uswah hasanah*—teladan yang baik . Maulid seharusnya mendorong pergeseran dari kesalehan individual menuju kesalehan sosial. Kesalehan tidak cukup diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari kejujuran, kepedulian kepada sesama, kemampuan menjaga lingkungan, menghormati perbedaan, dan memberikan manfaat kepada masyarakat .</p>
<p>Karena itu, perlu kita ingat, kalau kemerdekaan mengajarkan kita tentang perjuangan, persatuan, dan gotong royong, maka Maulid mengingatkan kita kepada akhlak Rasulullah, tentang kejujuran, kedamaian, perjuangan dalam dakwah dan bagaimana kita dapat memperkuat keimanan. Di tengah tantangan demoralisasi, ketimpangan ekonomi, dan dinamika sosial-politik yang rentan memecah belah persatuan, spirit risalah kenabian harus dibangkitkan kembali.</p>
<p>Di berbagai <a href="https://kabartoday.co/pesantren-dan-kajian-kitab-fiqh-menjaga-tradisi-merawat-kebangsaan/">pesantren</a> dan majelis taklim, peringatan Maulid dan HUT RI digelar berdampingan sebagai simbol semangat keagamaan dan kebangsaan. Bahkan, banyak pelajar dan santri di Indonesia menggelar pawai dengan membawa gunungan makanan ringan sebagai upaya membangkitkan rasa cinta agama dan cinta tanah air sekaligus. Ini adalah wujud nyata bahwa kedua momentum ini tidak perlu dipertentangkan.</p>
<p><strong>Hikmah Bersama untuk Masa Depan Bangsa</strong></p>
<p>Di sinilah letak hikmah terbesar dari perjumpaan dua peringatan ini. Kemerdekaan mengajarkan pengorbanan dan tanggung jawab untuk menjaga persatuan, keadilan, dan martabat manusia. Maulid mengajarkan akhlak—kejujuran, kasih sayang, kesabaran, amanah, dan kemampuan mengendalikan diri. Perjuangan tanpa akhlak dapat berubah menjadi perebutan kekuasaan. Akhlak tanpa tanggung jawab kebangsaan dapat kehilangan daya transformasinya .</p>
<p>KH Manarul Hidayat menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama adalah benteng NKRI. &#8220;Siapa pun yang hendak menghancurkan Indonesia harus menghancurkan NU terlebih dahulu, yaitu para santri dan ulama Nusantara. Tapi tak satu pun yang bisa menghancurkan NU sejak zaman Belanda hingga PKI&#8221; . Pernyataan ini bukan sekadar klaim, melainkan pengakuan atas peran historis dan komitmen berkelanjutan para santri dan ulama dalam menjaga keutuhan bangsa.</p>
<p>Maulid Nabi di bulan kemerdekaan adalah pengingat bahwa 81 tahun Indonesia merdeka bukanlah perjalanan pendek. Tugas kita sekarang adalah mengisi dan mempertahankan kemerdekaan dengan terus membangun bangsa, yang dimulai dari diri sendiri. Mari kita jadikan peringatan Maulid sebagai momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus menjaga semangat persatuan dan gotong royong yang telah diwariskan para pendiri bangsa. Karena masa depan Indonesia membutuhkan warga negara yang mencintai bangsanya dan meneladani Rasulullah (odie).</p>
<p><em>Wallahua’lambishawab.</em></p>
<p><em>Pamulang, 25 Agustus 2026.</em><br />
<em>Murodi al-Batawi.</em></p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co/hikmah-maulid-nabi-muhammad-saw-dan-perayaan-peringatan-kemerdekaan-ri-ke-81/">Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW dan Perayaan Peringatan Kemerdekaan RI ke-81</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://odiemha.com/go/wp-content/uploads/2026/07/picture_8d1afec96c3f4f85b4a0860cf25a374c_copy_313x313.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pesantren dan Tradisi Maulid: Cinta yang Berbudaya</title>
		<link>https://kabartoday.co/pesantren-dan-tradisi-maulid-cinta-yang-berbudaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2026 22:21:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartoday.co/?p=103124</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Murodi al-Batawi.</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co/pesantren-dan-tradisi-maulid-cinta-yang-berbudaya/">Pesantren dan Tradisi Maulid: Cinta yang Berbudaya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em>.</p>
<p>Setiap bulan Rabiul Awal tiba, pesantren-pesantren di seluruh Nusantara berdenyut dengan semangat istimewa. Itulah saatnya tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW dihidupkan dengan segala kekhasannya. Lebih dari sekadar peringatan tahunan, Maulid di <a href="https://kabartoday.co/pesantren-dan-kajian-kitab-fiqh-menjaga-tradisi-merawat-kebangsaan/">pesantren</a> adalah cerminan bagaimana cinta kepada Rasulullah diterjemahkan ke dalam budaya yang hidup, mengakar, dan terus berkembang dari generasi ke generasi.</p>
<p>Pesantren memiliki posisi sentral dalam melestarikan tradisi Maulid di Indonesia. Di Pondok Pesantren Sunan Ampel, misalnya, peringatan Maulid digelar selama sepuluh hari berturut-turut—mulai tanggal satu hingga sepuluh Rabiul Awal. Ini bukan sekadar ritual, melainkan sebuah prosesi panjang yang sarat makna: pembacaan shalawat, doa pembuka, pembacaan dan pemaknaan kitab Barzanji, hingga puncaknya pembacaan Maulid Simtudduror. Dalam setiap rangkaian itu, terhampar pesan dakwah tentang akidah, syariah, dan akhlak yang diserap para <a href="https://kabartoday.co/pesantren-dan-kajian-kitab-fiqh-menjaga-tradisi-merawat-kebangsaan/">santri</a>.</p>
<p><strong>Kitab Barzanji: Denyut Jantung Maulid Pesantren</strong></p>
<p>Jika ada satu tradisi yang paling identik dengan Maulid di pesantren,adalah pembacaan kitab Al-Barzanji. Kitab karya Sayyid Ja&#8217;far al-Barzanji ini berisi syair dan prosa yang menuturkan biografi Nabi—nasab, kehidupan, hingga kemuliaan akhlaknya. Lantunannya yang merdu, dibaca secara beramai-ramai, menciptakan suasana spiritual yang mendalam.</p>
<p>Di Ponpes al-Masyhad, Cijurai, tradisi Berzanji ini bukan hanya digelar di lingkungan pesantren, tetapi juga bersama warga desa sekitar. Bahkan, tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemendikbud sejak 2021. Ini menunjukkan bahwa tradisi pesantren telah menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional.</p>
<p>Tidak hanya itu, penelitian menunjukkan bahwa pembacaan Barzanji di pesantren memiliki peran penting: sebagai media untuk mengimitasi dan menauladani akhlak serta sifat-sifat Nabi—shiddiq, amanah, tabligh, fathonah. Dengan mendengar dan menghayati kisah hidup Nabi, santri tidak sekadar mengenal, tetapi juga terdorong untuk meneladani. Dampaknya terasa dalam kehidupan santri: tumbuh rasa cinta kepada Nabi, berkurangnya gelisah, dan ketenangan hati.</p>
<p><strong>Tradisi Lokal yang Memperkaya Semangat Maulid</strong></p>
<p>Kekayaan tradisi Maulid di pesantren juga tercermin dari beragamnya ekspresi budaya lokal yang menyertainya. Di Banten misalnya, tradisi arak-arakan santri yang telah khatam Al-Qur&#8217;an dengan menaiki kuda jingkrak menjadi pemandangan khas setiap bulan Maulid. Diiringi lantunan rebana dan musik tradisional kencreng, prosesi ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus kebanggaan masyarakat terhadap santri yang berhasil menuntaskan 30 juz Al-Qur&#8217;an. Tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun ini memperkuat nuansa religius sekaligus menjadi hiburan rakyat yang mempererat hubungan pesantren dengan masyarakat.</p>
<p>Di tempat lain, seperti di Ponpes Al-‘Atiqiyah, Sukabumi, ratusan bahkan ribuan jamaah hadir dalam peringatan Maulid yang diisi ceramah agama. Pejabat setempat yang hadir menyatakan bahwa peringatan Maulid sudah menjadi tradisi warga, dan ia berharap ajaran Nabi selalu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p><strong>Dari Seremoni Menuju Keteladanan</strong></p>
<p>Peringatan Maulid di pesantren bukanlah akhir dari segalanya. KH. Dr. Mudrik Kori Indra, MA, mengatakan dalam perayaan Maulid di Ponpes al-Ittifaqiyah, menegaskan bahwa Maulid bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum memperkuat keimanan dan memperdalam nilai-nilai keteladanan Rasulullah. &#8220;Kita semua dituntut meneladani kejujuran beliau dalam berdagang, amanah dalam kepemimpinan, dan kasih sayang kepada sesama,&#8221; ujarnya. Ia juga menyoroti peran strategis pesantren dalam menjaga keutuhan moral dan membentuk karakter generasi muda sebagai calon pemimpin dan ulama masa depan.</p>
<p>Pesan yang sama disampaikan KH. Dr. Dedy Suaedy, di Ponpes al-Firdausi, peringatan Maulid harus menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas iman dan akhlak, mengikuti Nabi sebagai rahmat bagi alam semesta.</p>
<p><strong>Maulid, Pesantren, dan Masa Depan Bangsa</strong></p>
<p>Di tengah arus modernisasi dan tantangan moral yang kian kompleks, pesantren melalui tradisi Maulid mengajarkan bahwa cinta kepada Nabi bukanlah sekadar pujian di atas mimbar, tetapi diwujudkan dalam budaya yang hidup, dalam aksi nyata untuk kemaslahatan umat. Pembacaan Barzanji mengingatkan pada akhlak mulia. Arak-arakan khataman Al-Qur&#8217;an menunjukkan penghargaan terhadap ilmu. Kebersamaan dalam perayaan mengikat ukhuwah antar-santri dan masyarakat.</p>
<p>Dari pesantren, tradisi Maulid terus bergema—mengingatkan bahwa meneladani Rasulullah adalah tanggung jawab yang harus diwariskan dari generasi ke generasi. Bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dihidupi.</p>
<p>Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat (odie).</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co/pesantren-dan-tradisi-maulid-cinta-yang-berbudaya/">Pesantren dan Tradisi Maulid: Cinta yang Berbudaya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://almasoem.sch.id/wp-content/uploads/2022/10/Maulid.png" medium="image"></media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
